Mahasiswa Rekayasa Pertanian Mempelajari Aplikasi Teknologi Geospasial di Bidang Pertanian melalui Seri Kuliah Tamu Bersama AgriWatch

Revolusi Industri 4.0 secara tidak langsung mempengaruhi sektor pertanian di Indonesia. Untuk menjawab tantangan membuat sistem pertanian yang efisien serta mampu meningkatkan produktivitas salah satunya adalah dengan memanfaatkan Internet of Things (IoTs) yang saat ini sedang marak dikembangkan dalam sistem pertanian modern untuk pemantauan iklim dan cuaca, pengolahan lahan, pengembangan varietas baru, pemasaran, dan lainnya. Peran ilmu geografi di bidang pertanian sangatlah bermanfaat, terutama dalam bidang teknologi Sistem Informasi Geospasial (SIG) yang mampu menampilkan pemetaan lahan sehingga dapat membantu dalam perencanaan pengelolaan sumberdaya pertanian seperti luas kawasan untuk budidaya, mengembangkan sistem rotasi, dan sebagainya. Banyaknya manfaat yang dapat diperoleh melalui pemanfaatan Sistem Informasi Geospasial (SIG) dan Internet of Things (IoTs), oleh karena itu pada Selasa, 16 Februari 2021, mata kuliah Pengelolaan Bentang Alam Terpadu memberikan kuliah tamu mengenai Geospatial Technology for Agriculture 4.0 untuk memberikan wawasan mengenai aplikasi nyata penerapan SIG di bidang pertanian oleh Mr. Ali Akbar, Ph.D. yang merupkan CEO Agriwatch dari Belanda.

Dibuka oleh dosen pengampu, Dr. Hikmat Ramdan, acara ini dipandu oleh Bu Farah Nafisa Ariadji, S.T., M.Sc. yang merupakan alumni S1 Geodesi ITB yang kini sedang menempuh pendidikan di Fakultas Geo-Information Science and Earth Observation (ITC) Universitas Twente, Belanda. Acara yang dilaksanakan secara daring melalui plaform Zoom Meeting ini dihadiri oleh sekitar 76 peserta. Selain mahasiswa Rekayasa Pertanian, peserta kuliah tamu berasal dari industri dan  instansi pemerintah seperti Agritech, PT Great Giant Pineapple, PT Pupuk Indonesia, Badan Perencanaan Pembangunan Penelitian Pengembangan Daerah (BAPPELITBANGDA) Kabupaten Bandung Barat, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabapaten Kuningan, Balai Besar KSDA Jawa Barat, Universitas Negeri Padang, serta Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Dalam pemaparannya, Mr. Ali Akbar menceritakan alasannya mengapa beliau mempelajari geospasial dan membuat start-up di bidang pertanian. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh keluarganya yang berprofesi sebagai petani. Selain itu beliau juga memiliki ketertarikan untuk mengaplikasikan teknologi pada kegiatan pertanian untuk mendukung dan membantu petani, sehingga beliau membangun start-up Agriwatch yang menawarkan layanan geospasial untuk pertanian presisi dengan memonitoring cuaca dan iklim melalui pemantauan data remote sensing dengan mengintegrasikan data dari satelit, sensor pada drone, dan GIS database. Menurutnya, penggunaan beberapa platform teknologi seperti drone, spectrophotometer, kalibrasi data satelit dalam proses pengambilan data pemetaan lahan merupakan salah satu inovasi teknologi digital dalam pertanian presisi yang bermanfaat untuk menghasilkan produktivitas lebih tinggi dengan mengurangi biaya input. Dengan memanfaatkan data spasial, petani dapat melakukan pemantauan pertumbuhan tanaman, status kesehatan tanaman, kebutuhan nutrisi yang tepat untuk pemupukan, hingga evaluasi lahan. Dalam pemaparannya juga Mr. Ali Akbar tidak menutup kemungkinan bagi mahasiswa yang ingin melakukan kerja praktik (internship) untuk mempelajari lebih dalam mengenai penerapan remote sensing dan pemanfaatan geospasial di bidang pertanian, karena sebelumnya Agriwatch pernah menerima pelajar untuk melaksanakan penelitian, internship, membantu mahasiswa yang melaksanakan studi lanjut dari berbagai negara seperti Australia, Bulgaria, dan lainnya.

Acara ini diakhiri dengan sesi tanya jawab, antusiasme peserta juga terlihat dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh peserta seputar aplikasi penggunaan spectrophotometer pada drone dalam sistem pertanian tumpeng sari, penggunaan drone untuk mengetahui kebutuhan air pada saat cuaca sedang tidak menentu, serta peluang untuk mempelajari penerapan teknologi informasi lebih lanjut di Agriwatch. Menurut Ravenska, Mahasiswa Rekayasa Pertanian 2018, materi kuliah tamu yang dibawakan sangat menarik dan dapat menambah wawasan tentang penerapan GIS dalam smart farming karena disertai dengan contoh kasusnya secara langsung, dan berharap kedepannya akan lebih banyak lagi contoh penerapan aplikasi GIS untuk pertanian yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia, serta diadakan kembali kuliah tamu dari start-up lainnya untuk membuka wawasan mahasiswa tentang pekerjaan dan inovasi di bidang pertanian.

Berita Terkait

EnglishIndonesia