Mechanical Phyrtilizor: Inovasi Alat Sprayer Otomatis Berbasis BWD

Penulis : Abzul Aziz (Mahasiswa Rekayasa Pertanian 2015)

Ilustrasi Dampak Negatif Kelebihan Pupuk Urea (Sumber : aceh.tribunnews.com)

Pupuk urea adalah pupuk dasar yang dibutuhkan oleh tanaman dalam masa pertumbuhan (vegetatif). Pupuk urea mengandung unsur hara Nitrogen yang merupakan unsur esensial bagi kebutuhan tanaman. Nitrogen dapat membantu sintesa asam amino dan protein sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi dedaunan bagi tanaman.

Pemberian pupuk urea yang berlebih mengakibatkan kerugian pada tanaman, lingkungan dan manusia. Perubahan tanaman menjadi sukulen karena kondisi urea berlebih menyebabkan tanaman mudah terserang hama dan penyakit. Kerugian pada lingkungan ini biasanya terjadi pada tanah dan air bekas irigasi tanaman pertanian. Tanah menjadi kurang subur karena penumpukan urea menyebabkan tanah menjadi masam. Sementara air yang terdampak pupuk urea berlebih ini mengalami eutrofikasi. Menurut Sugiara et al. (2004) eutrofikasi adalah kondisi tingginya unsur N dan P pada air sehingga terjadi peningkatan fitoplankton yang menyebabkan kualitas air menurun, air berubah menjadi keruh, oksigen terlarut rendah timbul gas-gas beracun dan bahan beracun (cyanotoxin). Selain itu pemakaian pupuk urea berlebih juga menyebabkan petani menjadi ketergantungan terhadap pupuk urea padahal dengan pemberian pupuk berlebih tidak 100% pupuk diserap oleh tanaman. Hal itu menyebabkan petani menjadi boros karena meningkatnya biaya produksi pembelian pupuk setiap musim tanam.

Abdul Aziz (Mahasiswa Rekayasa Pertanian 2015) dan dua orang mahasiswa Teknik Mesin 2015, yaitu Fikri Barry Alfian dan Yuzar Arighi berkolaborasi  membuat sebuah teknologi sebagai solusi alternatif untuk memecahkan masalah tersebut. Teknologi yang telah diciptakan adalah Mechanical Pyrthilizor, sebuah alat sprayer pupuk yang dapat menyemprotkan pupuk urea ke tanaman padi dan jagung sesuai kebutuhan tanaman tersebut menggunakan sensor berbasis bagan warna daun (bwd). Alat ini merupakan pengembangan dari alat sprayer pada umumnya. Modifikasi pada bagian pompa disesuakan dengan output dari sensor bwd, sehingga kecepatan pompa dalam menyeprotkan pupuk sesuai dengan angka yang diterima dari sensor. Sensor bwd menerima input berupa warna daun dari tanaman yang akan diberi pupuk. Kemudian mengolahnya menjadi angka yang dikorelasikan dengan tabel bwd standar.

Desain Mechanical Phyrtilizor oleh Barry dan Tim

Uji Coba Sensor Mechanical Phyrtilizor pada Tanaman Jagung yang Berusia 2 Minggu

Pembuatan alat ini didanai oleh Kemenristek Dikti melalui kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Karsa Cipta. pembuatannya relatif mudah dan membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama. Menurut Fikri Barry Alfian “Hanya menghabiskan waktu dua minggu. Namun proses perancangannya yang lama, hampir lima bulan untuk merancang desain dan melakukan kalibrasi yang sesuai untuk sensornya”. Saat ini alat sedang dalam proses pengajuan untuk dilakukan uji kinerja oleh Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBPMEKTAN). Setelah itu rencananya alat ini akan diajukan untuk mendapatkan hak paten.

“Saya berharap melalui teknologi yang dikembangkan ini menjadi contoh nyata bahwa kolaborasi antar keilmuan dapat menciptakan teknologi yang menjadi solusi atas permasalahan saat ini”, ujar Aziz.

Berita Terkait

IndonesiaEnglish