Agriculture 4.0: Peluang dan Tantangan Menuju Era Baru Pertanian Digital

Penulis : Farhan Ilham Wira Rohmat (Rekayasa Pertanian 2015)

Foto Bersama Kuliah Tamu Mata Kuliah Manajemen Agribisnis dan Kewirausahaan

Pertanian pada abad ke-21 akan menghadapi banyak sekali tantangan, diantaranya pertanian haruslah menghasilkan lebih banyak makanan dan serat untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk yang terus bertumbuh jumlahnya, degradasi dan penyempitan lahan,  penyediaan sumber daya tenaga kerja manusia berkualitas, pemanfaatan sumber daya alam yang semakin terbatas, dan hal-hal lainnya. Pesatnya pertumbuhan penduduk di dunia yang diperkirakan jumlahnya akan mencapai 10 miliar jiwa dan dibutuhkan makanan 70% lebih banyak di bandingkan dengan makanan yang ada saat ini, memaksa adanya perubahan cara produksi dalam sektor pertanian. Hal ini menyebabkan perlu adanya metode pertanian yang lebih efektif untuk mencapai target di atas.

Pada acara kuliah umum mata kuliah Manajemen Agribisnis dan Kewirausahaan yang berjudul ‘Agriculture 4.0: Peluang dan Tantangan Menuju Era Baru Pertanian Digital’ yang dilaksanakan pada hari Kamis, 25 Oktober 2018, Pak Iwan Setiawan selaku Dosen Tamu dari Fakultas Pertanian Unpad saat ini pertanian perlu menerapkan sistem produksi yang bukan lagi berbasis pada penggunaan lahan seluas-luasnya, pengairan dan pemupukan sebanyak-banyaknya, dan pembasmian hama dan penyakit menggunakan pestisida sehabis-habisnya hama.

“Sebaliknya petanian di dunia sedang mencanangkan dan menggalakkan konsep pertanian 4.0, yaitu pertanian yang tidak lagi bergantung pada penggunaan lahan, air, pupuk, dan pestisida. Para petani modern akan menggunmakan lebih sedikit lahan, air, pupuk, dan pestisida dan lebih berfokus pengembangan inovasi-inovasi pertanian dan penyediaan makanan seperti makanan hasil 3D-printing, cultured meat, modifikasi gen, dan lain-lain,”

Pak Iwan juga menjelaskan bahwa Agriculture 4.0 memerlukan berbagai inovasi dan integrase dari berbagai multidisiplin ilmu untuk menghasilkan produktivitas dan kualitas produk. Ia menjelaskan, setidaknya ada lima teknologi utama yang menopang implementasi Industri 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human-Machine Interface, teknologi robotic dan sensor, serta teknologi 3D Printing. “tujuan dicanangkannya Agriculutre 4.0 adalah mengusahakan terjaminnya ketahanan pangan dan pengentasan kelaparan di masa depan,” ujarnya.

Pak Iwan Setiawan juga mengemukakan banyak sekali peluang yang dapat dimanfaatkan dalam menghadapi era Pertanian 4.0, beberapa diantaranya adalah daya saing yang berkelanjutan, industri halal, agrotourism, diversifikasi, dan lain-lain. Namun, terdapat banyak sekali ancaman yang harus dihadapi, seperti proyek megapolitan, penguasaan lahan oleh pihak asing, tenaga kerja asing, arus informasi yang tak terbendung, dan lainnya.

“Dengan melihat kondisi saat ini dan peluang di masa depan, seharusnya mahasiswa Rekayasa Pertanian ITB bisa melihat seberapa dibutuhkannya anda semua untuk memastikan tercapainya tujuan ketahanan pangan dan pengentasa kelaparan di masa depan. Maka dari itu, kalian sebagai mahasiswa pertanian patutnya lebih semangat untuk lebih banyak berkontribusi di bidang pertanian. Karena sukses akan datang kepada siapa yang berani bermimpi dan menwujudkan dunia tanpa kelaparan dan kelangakaan makanan.” Tutupnya dalam sesi kuliah umum kali ini.

Penyerahan Cenderamata dari Ibu Mia Rosmiati (Kaprodi Rekayasa Pertanian) ke Pak Iwan Setiawan

Berita Terkait

IndonesiaEnglish