Mendukung Program MBKM, Program Studi Rekayasa Pertanian Melaksanakan Sosialisasi Kerja Praktik Plus

Adanya kebijakan ‘Merdeka Belajar Kampus Merdeka’ yang digagas oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa memperoleh pengalaman belajar di luar Program Studi melalui Magang/Praktik Kerja,  pada Sabtu, 6 Maret 2021, mahasiswa Rekayasa Pertanian diikutsertakan pada kegiatan Sosialisasi Kerja Praktik Plus yang diberikan oleh Bapak Fidrianto, Presiden Direktur PT Bangka Asindo Agri (PT BAA). Kegiatan dipandu oleh Ibu Dr. Ima M. Zainuddin, salah satu dosen pengampu mata kuliah Kerja Praktek (BA3090) di Program Studi Rekayasa Pertanian.

Di awal pemaparannya, Pak Fidrianto menjelaskan secara singkat profil perusahaan PT. Bangka Asindo Agri (PT BAA). Perusahaan yang terletak di Bangka ini, merupakan salah satu anak usaha dari PT ASINDO Tech yang bergerak di bidang starch processing (ekstraksi pati singkong dan sagu) dan berpusat di Lampung. Seiring berjalannya waktu, perusahaan tersebut pun mengembangkan usahanya, selain PT Bangka Asindo Agri, ASINDO Tech juga membentuk PT Langit Bumi Lestari yang bergerak di bidang natural resources (pengembangan sapi dan inovasi hilir), dan Bersama Ayo Angkut yang bergerak di bidang farming support untuk produksi peralatan mekanisasi. Perusahaan ini memilih singkong dan sagu sebagai bahan baku utama industrinya, karena komoditi ini memiliki potensi yang besar, namun belum dimanfaatkan secara maksimal dan belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Melalui usahanya, PT ASINDO Tech memiliki 4 (empat) unit usaha, yaitu Pertanian (produksi singkong dan sagu), Industri Intermediet (pengolahan tepung tapioka dan tepung sagu), Produk Inovatif (produksi olahan bangan pangan), dan Waste to Value (pemanfaatan limbah menjadi energi biogas, pupuk organik, dan bioplastik). Melalui usahanya, perusahaan tersebut selalu berupaya untuk menerapkan konsep integrated farming system dengan meminimalisir jumlah limbah yang dihasilkan untuk menunjang ketahanan pangan dengan memanfaatkan sumber daya lokal untuk menciptakan inovasi pangan.

Karena terbatasnya jumlah perkebunan singkong di Pulau Bangka dan hanya diperuntukkan untuk demonstrasi plot serta sosialisasi, sehingga untuk mempertahankan suplai bahan bakunya, PT BAA melakukan mitra dengan petani. Tingginya permintaan singkong untuk kebutuhan industri, menjadi tantangan tersendiri bagi para petani generasi muda untuk mau berinovasi meningkatkan produktivitas singkong dan meningkatkan kesejahteraan serta nilai tambah bagi petani. Petani yang menjadi mitra diberikan edukasi mengenai proses budidaya secara mekanisasi mulai dari pengolahan lahan, penanaman, hingga proses panen. Selain itu, untuk mendukung era digitalisasi, PT BAA juga mengembangkan FinTech Agri dengan target mensejahterakan petani. Bekerjasama dengan PT Pupuk Sriwijaya, PT BAA juga mengembangkan pupuk NPK khusus untuk budidaya singkong yang disesuaikan dengan sifat tanah di Bangka  melalui PT Langit Bumi Lestari. Hal ini juga menjadi kesempatan dan peluang bagi para mahasiswa untuk dapat menyusun formulasi pupuk khusus singkong sesuai kebutuhan dan dapat diaplikasikan secara umum pada berbagai jenis kondisi lahan.

Selain fokus di singkong, PT BAA juga mengolah sagu. Sagu yang baru dimanfaatkan sebagai salah satu hasil hutan, menjadi tantangan tersendiri untuk mampu dibudidaya sehingga kebutuhan industrinya secara kontinyu dapat terpenuhi. Di PT BAA, proses pengolahan sagu dilakukan secara lebih modern sehingga memiliki kualitas dan harga yang mampu bersaing sebagai salah satu alternatif pangan Indonesia. Di akhir persentasinya, Pak Fidrianto juga mengajak para mahasiswa untuk mau bergerak serta bekerja sama untuk membuat Indonesia maju melalui kluster pangan mandiri berbasis singkong dan sagu untuk menunjang pengembangan ekonomi.

Acara pun dilanjutkan dengan penjelasan dari Ibu Ima mengenai mekanisme pengambilan SKS untuk pelaksanaan Kerja Praktek Plus, yaitu dengan pengambilan maksimal 7 SKS yang meliputi SKS mata kuliah Kerja Praktek, Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan mata kuliah pilihan yang sesuai untuk dilaksanakan selama 1 bulan dan dibuka untuk 6-7 mahasiswa untuk batch pertama di tahun 2021. Pada sesi tanya jawab, para mahasiswa banyak melakukan diskusi terkait pengendalian lingkungan dalam proses pemanfaatan sagu untuk menghindari eksploitasi hasil hutan berlebihan, proses edukasi dengan mitra petani untuk menghasilkan produksi singkong dengan hasil yang seragam, integrasi dalam pemanfaatan limbah hasil pertanian dan peternakan, serta pengembangan pupuk khusus singkong.

Melalui kerja praktik plus ini diharapkan dapat memberikan mahasiswa pengalaman mengenai pembelajaran langsung di tempat kerja dan melatih hardskill yang meliputi keterampilan, complex problem solving, analytical skills, serta softskill yang meliputi etika profesi, komunikasi, serta kerjasama, sehingga mahasiswa dapat mengenali bagaimana suasana di tempat kerja dan lebih siap memasuki dunia kerja. Menurut Titin Susanti, salah satu mahasiswa Rekayasa Pertanian, sosialisasi Kerja Praktek ini sangat menginspirasi, khususnya bagi mahasiswa Rekayasa Pertanian. Melalui kegiatan ini, mahasiswa menjadi lebih tahu, bahwa hal yang terkadang disepelekan dan dianggap tidak berharga bisa dijadikan sebuah karya dan inovasi yang menguntungkan bagi hajat hidup orang banyak, khususnya sagu yang mungkin ketika dikembangkan tidak memerlukan modal tinggi namun dapat menghasilkan keuntungan yang fantastis. Harapannya kegiatan Kerja Praktik Plus ini dapat diselenggarakan dengan baik dan kerjasamanya dapat berlanjut di tahun-tahun sebelumnya. Selain itu dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat memacu para mahasiswa untuk dapat memanfaatkan sumber daya alam untuk dijadikan sebuah peluang dalam berkarir setelah menempuh pendidikan di Rekayasa Pertanian.

Berita Terkait

EnglishIndonesia